Di sepak bola modern, sebuah angka tidak selalu sekadar angka. Satu gol, satu assist, bahkan sebuah umpan yang berhasil melewati tekanan lawan dapat memiliki arti ekonomi ketika klub harus menentukan seberapa berharga seorang pemain.
Contohnya dapat dilihat dari Premier League. Data resmi kompetisi mencatat berbagai indikator performa pemain, mulai dari gol, assist, jumlah operan, hingga statistik lainnya. Artinya, performa pemain sekarang semakin mudah diterjemahkan menjadi data yang dapat dianalisis.
Erling Haaland menjadi contoh menarik. Dalam data nilai pasar Premier League musim 2025/26, Transfermarkt menempatkan Haaland sebagai pemain dengan nilai pasar tertinggi, yaitu €200 juta.
Angka tersebut tentu tidak muncul hanya karena Haaland mencetak gol. Pada awal musim 2025/26 saja, Premier League mencatat Haaland telah mencetak 14 gol dalam 11 pekan pertandingan. Pada periode yang sama, ia juga menjadi pemain dengan jumlah big chances terbanyak, yaitu 22.
Namun, sepak bola tidak hanya tentang mencetak gol. Lihat saja Jeremy Doku. Pada awal musim 2025/26, Doku memang baru mencetak satu gol, tetapi ia sudah mencatat tiga assist, menciptakan 23 peluang dari permainan terbuka, dan menjadi salah satu pemain dengan jumlah dribel sukses tertinggi. Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi seorang pemain dapat muncul dalam berbagai bentuk, bukan hanya dari jumlah gol.
Hal yang sama terlihat pada Elliot Anderson. Pada 11 pekan pertama musim tersebut, ia menjadi pemain dengan 361 successful passes di area pertahanan lawan, sekaligus memimpin statistik ball recoveries dengan 92 dan duels won dengan 82. Angka-angka tersebut mungkin tidak semenarik jumlah gol bagi penonton, tetapi justru memperlihatkan nilai seorang pemain dari sisi yang berbeda.
Di sinilah hubungan antara sepak bola dan manajemen keuangan menjadi menarik.
Ketika klub membeli seorang pemain, yang dibeli bukan hanya kemampuan mencetak gol. Klub sebenarnya sedang melakukan investasi terhadap manusia yang diharapkan mampu memberikan kontribusi olahraga sekaligus nilai ekonomi. Usia, posisi, kontrak, performa, popularitas, dan potensi perkembangan pemain dapat menjadi bagian dari pertimbangan pasar.
Karena itu, pertanyaan menariknya bukan sekadar “Siapa pemain yang paling banyak mencetak gol?”, tetapi “Seberapa besar performa seorang pemain dapat diterjemahkan menjadi nilai ekonomi?”
Passing accuracy, assist, dan gol dapat menjadi tiga indikator sederhana untuk melihat persoalan tersebut. Pemain dengan akurasi umpan tinggi menunjukkan kemampuan menjaga dan mengalirkan permainan. Assist menunjukkan kontribusi langsung terhadap terciptanya gol, sedangkan jumlah gol memperlihatkan kontribusi akhir yang paling mudah diukur.
Tetapi angka-angka tersebut juga mengingatkan kita bahwa nilai pemain tidak dapat dijelaskan oleh satu statistik saja.
Doku, misalnya, menunjukkan bahwa seorang pemain dapat memiliki nilai kontribusi tinggi meskipun jumlah golnya belum sebesar penyerang. Sementara Haaland menunjukkan bagaimana produktivitas mencetak gol dapat berjalan beriringan dengan nilai pasar yang sangat tinggi.
Dengan demikian, statistik sepak bola sebenarnya memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar bahan perdebatan antarsuporter. Statistik dapat menjadi alat untuk memahami bagaimana performa olahraga berhubungan dengan keputusan ekonomi.
Pada akhirnya, nilai seorang pemain bukan hanya terletak pada berapa kali ia mencetak gol, tetapi pada seberapa besar kontribusinya mampu menciptakan nilai bagi tim. Di era sepak bola berbasis data, passing, assist, gol, dan berbagai indikator performa lainnya semakin menjadi bahasa yang menghubungkan lapangan hijau dengan dunia bisnis.
Sebuah pertandingan mungkin selesai dalam 90 menit. Namun, angka-angka yang dihasilkan selama 90 menit tersebut dapat terus memengaruhi cara klub menilai seorang pemain jauh setelah peluit akhir berbunyi.
Penulis: Faris Akbar
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang






