Persis Solo: Antara Target dan Realita

Sutanto Tan menjadi andalan lini tengah Persis Solo.
Sutanto Tan menjadi andalan lini tengah Persis Solo. (twitter.com/persisofficial)

“Juara.” ucap Kaesang mengenai targetnya untuk Laskar Sambernyawa saat launching tim Persis Solo menyambut BRI Liga 1 2022/23 setelah berhasil promosi dari Liga 2 di musim sebelumnya.

Ya, anda semua tidak salah mengerti. Kaesang sebagai salah satu dari tiga pemilik baru Persis Solo (ada Kevin Nugroho dan Erick Thohir) menyatakan bahwa targetnya untuk Persis Solo di Liga 1 musim ini adalah juara.

Tentu pernyataan sekaligus target dari anak bungsu Presiden Jokowi itu membuat banyak pemerhati sepakbola terkejut sekaligus sedikit bingung.

Bagaimana tidak membuat bingung saat sebuah tim promosi langsung memasang target juara di musim pertamanya setelah lama tidak mentas di Liga tertinggi di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Tetapi, ada beberapa hal yang mungkin bisa menetralkan rasa bingung itu. Persis sendiri memang dinilai memiliki komposisi pemain yang notabene levelnya Liga 1, saat mentas di Liga 2.

Bahkan, dibandingkan dua tim promosi lainnya, Persis masih tampak jauh lebih kuat. Kita bisa melihat cukup melimpahnya pemain naturalisasi yang posisinya tersebar merata.

BACA JUGA: Lulinha: Penjelajah Yang Siap Taklukkan Liga 1

Ada nama Khairallah Abdelkbir, lalu striker bintang Alberto Goncalves, gelandang pengangkut air Yu Hyun-Koo, hingga bek tengah yang telah malang melintang di Liga Indonesia yaitu Fabiano Beltrame.

Belum lagi nama-nama pemain lokal seperti Sandi Sute, Irfan Jauhari, Eky Taufik, Abduh Lestaluhu, Alfath Faathier, Marinus Wanewar, Assanur Rijjal, Miftahul Hamdi, Heri Susanto hingga Ferdinand Sinaga.

Bukan main kalau kita melihat isi skuad Laskar Sambernyawa tersebut untuk menghadapi Liga 2. Maka, memang bukan hal yang aneh saat pada akhirnya mereka menjuarai Liga 2 setelah di final mengalahkan RANS Cilegon FC (sekarang RANS Nusantara).

Namun, superioritas Persis Solo yang kita lihat di Liga 2 itu tampak sirna saat telah mentas di BRI Liga 1 2022/23.

Kepergian beberapa punggawa seperti Beto Goncalves, Miftahul Hamdi, hingga Sandi Sute ternyata sangat berpengaruh pada permainan Persis yang pada akhirnya membuat mereka tidak mampu memperoleh poin penuh.

Terlebih bagi Beto dan Hamdi, keduanya memiliki peran penting yang mana cukup membantu Persis Solo bermain apik di sepanjang Liga 2 musim 2021.

Keduanya saling mengisi catatan statistik terbaik dalam satu musim. Beto membukukan total 11 gol (sekaligus menjadi topskor Liga 2), serta most shot on target sebanyak 19 tendangan. Jumlah itu melangkahi striker andalan dua tim promosi lainnya yaitu Dewa United dengan Herman Dzumafo sebanyak 18, sementara RANS dengan Cristian Gonzales dengan 13 shot.

Sementara Hamdi mengisi asis terbanyak dalam semusim bagi tim sebanyak empat, serta dribel terbanyak sebesar lima.

Hal tersebutlah yang tampak belum ditemukan di skuad Persis Solo musim ini. Tidak ada yang menjadi pembeda, terutama para pemain lokal.

Maka, menjadi baik apabila kita sama-sama mengulas apa yang membuat Persis Solo semenjak Piala Presiden hingga Liga 1 sama sekali belum menunjukkan kedekatannya dengan harapan juara yang sebelumnya telah disebutkan.

Sejak promosi dari Liga 2, Persis belum pernah merasaakan kemenangan di laga resmi. Pada Piala Presiden mereka mencatatkan dua kali kalah dan satu kali seri. Serta kebobolan empat gol dari tiga pertandingan.

Sementara di Liga 1, Eky Taufik dkk selalu kalah di empat pekan pertama dan telah kebobolan 9 gol. 

Komposisi dan Kedalaman Skuad

Yang paling tampak sebagai alasan kurangnya performa dari Persis Solo adalah komposisi dan kedalaman skuad. Setelah sebelumnya di Liga 2, mereka tampak memiliki skuad yang hampir selevel, baik di starting eleven maupun para cadangannya, di Liga 1 ini justru skuad mereka tampak pincang sebelah.

Dapat dilihat bahwa level permainan para punggawanya yang siap dan mumpuni bertarung di Liga 1 terdapat 8-9 pemain, belum termasuk dengan pemain asingnya.

Artinya, sisanya bukan tak mumpuni dan tidak bagus, namun mayoritas berusia muda dan minim pengalaman bertarung di Liga 1.

Sebut saja Zanadin Fariz, Chrystna Bhagascara, Althaf Alrizky hingga Taufiq Febriyanto. Bahkan, nama terakhir memang lebih banyak malang melintang di Liga 2 sebagai incaran banyak klub guna menambah daya gedor di lini tengah.

Hal ini membuat sang pelatih Jackson Tiago memang harus bisa cerdas-cerdas merotasi pemainnya. Sebab pertimbangannya bukan saja berkaitan dengan stamina ataupun daya tahan pemain, tetapi juga kualitas sang pemain guna mempertahankan permainan terbaik secara konsisten.

Kualitas Pemain Asing

Hal lain yang menjadi kemungkinan alasan bagi Persis tidak bisa tampil maksimal adalah kualitas pemain asing.

Para pemain asing yang direkrut oleh tiap klub Liga 1 memang tentunya memiliki beban tersendiri untuk bisa mengangkat tim tersebut secara kualitas melalui skill ataupun kelebihan lain yang menjadi daya tarik.

Sudah terdapat enam pemain asing yang telah memperkuat Persis Solo sejak Piala Presiden dan Liga 1 musim yang baru. Ada Jaimerson Xavier, Aaron Evans, Gerard Artigas, Alexis Messidoro dan terbaru ada Ryo Matsumura serta Fernando Rodriguez.

Evans dan Artigas sendiri hanya seumur jagung berada pada klub yang bermarkas di Manahan ini. Alasannya permainan mereka dianggap tidak cocok dengan pola yang diinginkan oleh Jackson, sehingga keduanya tidak bisa membantu tim melalui beberapa laga yang telah dihadapi.

Evans sendiri bersama Jaimerson sebenarnya menjadi rekrutan yang cukup bagus. Keduanya cukup sering bermain apik dengan beberapa klub sebelumnya. Sayangnya, Evans justru bernasib apes karena didepak, meski Liga 1 baru berjalan empat pekan.

Jatah pemain asing dari Aaron Evans pun diisi oleh gelandang serang asal Jepang, Ryo Matsumura. Persis berharap dari kecepatan dan kelincahannya mampu lebih banyak memberi peluang emas di sepertiga bagian lawan.

Sementara Artigas sebagai ujung tombak tidak lain tidak bukan ditargetkan menjadi striker ganas yang mampu merangkum banyak gol. Namun apesnya, dirinya hanya diberi kesempatan untuk mentas sekali di Liga sebelum terdepak.

Meski telah mencetak satu gol, evaluasi terhadap pemain asal Spanyol ini sudah dilakukan sejak Piala Presiden. Sehingga, Persis menggantinya dengan ex-Mitra Kukar di tahun 2018, Fernando Rodriguez.

Harapannya, Fernando bisa kembali menunjukkan tajinya seperti di Mitra Kukar lalu dengan merangkum 15 gol serta 1 asis.

Kedua alasan tersebut memang belum tentu benar, ada kemungkinan yang lebih teknis yang bisa jadi lebih masuk akal saat menjadi alasan. Namun, tentunya kedua alasan tersebut bisa menjadi bahasan yang menarik untuk dicegah, demi keluar dari keadaan saat ini.

Bahkan, tajuk #JacksonOut dari para pendukung Persis Solo sudah cukup mengaum deras di media sosial. Entah menjadi keputusan yang baik atau buruk apabila Jackson benar-benar dipecat nantinya.

Albert Agung Hosea Sidauruk

Seorang anak yang mencintai sepakbola sebagai kebahagiaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.